Kebangkrutan Moral Anggota DPR (Editorial MI Senin, 11 April 2011)

Kebangkrutan Moral Anggota DPR.

Kepentingan bukan Kesetiaan (Editorial Media Indonesia Senin 18 April 2011)

Kepentingan bukan Kesetiaan.

Menggali Akar Bom Bunuh Diri (Editorial Media Indonesia Sabtu, 16 April 2011)

Menggali Akar Bom Bunuh Diri.

Jurus Kikis Suku Bunga : Editorial Media Indonesia 1 April 2011 di Metro TV

Jurus Kikis Suku Bunga.

Gedung Baru DPR nan Megah, Kita Harus Bangga !

Melihat maket gedung baru DPR RI kita nan megah, rasanya hanya ada satu ucapan yang pantas, yakni: WOW ! Sebagai bangsa yang berdaulat, kita harus bangga memiliki gedung megah seperti itu. Namun sebagai bangsa yang ‘katanya’ bermoral, kita juga seharusnya malu memiliki gedung mewah seperti itu di tengah masih tingginya angka kemiskinan di negeri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini.

Ada satu hal yang menurut saya menjadi tren bagi pejabat di Indonesia, yakni KEMEWAHAN ! Jabatan dan status sosial selalu saja hanya berpatokan pada kemewahan. Gedung megah, mobil mahal, penampilan keren, pokoknya segala hal yang mengesankan serba wah. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan hidup sederhana yang dianut di beberapa negara.

Saya sering melakukan peliputan ke kantor-kantor pemerintahan. Suasana kantor di kota besar biasanya sangat terkesan wah. Bahkan di ruangan kepalanya, biasanya tak kalah dengan fasilitas hotel mewah. Jangankan ruangan sekelas gubernur, ruangan untuk jabatan kepala dinas, bahkan camat dan Kapolsek biasanya juga mewah. Kelihatannya mereka malu jika tamunya menganggap ruangannya dekil.

Suasana yang sangat berbeda akan terasa jika saya melakukan peliputan ke kantor-kantor tingkat dua di daerah. Biasanya gedungnya lebih sederhana. Namun untuk suasana di rumah dinas dan pejabat sekelas bupatinya tetap akan terkesan mewah.

Nah, bicara soal pejabat, Anda bisa melihat perubahan drastis saat seseorang menduduki jabatan tertentu. Saya mengenal seorang aktifis partai yang mengendarai sepeda motor saat sibuk kampanye. Dia lalu terpilih di DPRD I. Awal-awal bertugas ia biasanya diantar naik sepedamotor oleh adiknya ke kantor. Beberapa bulan kemudian, setelah mulai mendapatkan jatah mobil dinas, gayanya mulai berubah. Jarak dengan orang lain pun sepertinya berubah.

Lihat pula menteri-menteri kita. Banyak fasilitas yang mereka dapatkan setelah menjabat.

Nah, terkait dengan adanya rencana pembangunan gedung baru DPR, kita jangan terkejut kalau para anggota DPR ngotot dan kukuh dengan rencana mereka. Karena memang begitulah adanya negara kita. Semua diukur dengan kemewahan. Kalau belum terkesan mewah sepertinya masih ada yang kurang.

Saya pernah melakukan tugas liputan di India. Disana saya melihat bagaimana hidup sederhana itu memang bukan hanya sekadar simbol. Hidup sederhana memang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh pejabat-pejabat disana.

Saat saya dan rombongan berkunjung ke pabrik mobil Tata, beberapa karyawan mereka mendekat ke mobil dinas staf KJRI yang membawa kami. Mereka sangat kagum dengan mobil dinas staf KJRI itu. Mobilnya Mercedes Benz, yang di India dianggap sangat mewah, karena mereka biasanya membeli mobil produksi dalam negeri mereka bermerk Tata.

“Indonesia is very rich…” kata mereka sambil mengangkat jempol.

Saat rombongan berkunjung ke lokasi belanja, para istri pejabat itu memborong kain sari. Sampai-sampai ada yang belanja Rp 90 juta di satu toko. Saya yang hanya bisa menonton, sempat berbincang dengan para penjaga toko. Kesan mereka sama.

‘INDONESIA sangat kaya ya?” kata mereka.

Nah, karena kesan itu, wajar kan kalau DPR harus memiliki gedung mewah dan megah? Agar anggota parlemen di negara-negara lain bisa berkomentar takjub juga.

Ngomong-ngomong soal keserhanaan ini, menurut saya kita harus belajar banyak ke India. Disana, masyarakatnya diminta mencintai produk dalam negeri. Namun bukan cuma slogan.

Beda dengan disini. Pejabat sibuk meminta warga agar cinta produk dalam negeri. Sementara para pejabat sendiri memakai sepatu, tas dari luar negeri. Mereka sibuk menyatakan bahwa mutu rumahsakit kita tak kalah dengan luar negeri, tapi berobatnya ke luar negeri. Mereka mengatakan mutu pendidikan kita tak kalah dengan luar negeri, namun semua anaknya sekolah di luar negeri. Tak sesuai perkataan dengan kenyataan. Menurut Buya Syafii Maarif, tak sesuai kata dan perbuatan ini bisa disebut berbohong.

Di Mumbai, India, saya pernah dibawa ke Filmcity. Sebuah kawasan pusat perfilman India. Disana ada perkantoran dan studio alam. Kalau kita melintas, di kiri kanan jalan banyak kru film yang sedang shooting. Usai berkeliling, kami dibawa ke kantor pimpinan disana. Awalnya saya tak menyangka kalau itu adalah ruangan pimpinan Filmcity. Mengapa tidak, ruangan itu hanya ruangan sederhana. Sebuah lukisan di dinding, lalu ada kursi kayu sederhana dan meja. Di sudut ruangan ada televisi 14 inchi. Sudah !

Padahal itu ruangan orang nomor satu di Filmcity, pusat film, yang menjadi penghasil film terbanyak di seluruh dunia. Dari tempat itu dihasilkan lebih dari 1000 judul film setahun. Ruangannya tak lebih bagus dari ruangan seorang ketua jurusan kita di kampus dulu.

Acara-acara yang mereka lakukan saat menyambut rombongan Indonesia juga dilakukan dengan sangat sederhana. Saat berkunjung ke pusat perkereta-apian India, suasananya tak lebih seperti pesta perpisahan di sekolah. Ruangan sederhana, spanduk pun dibuat sederhana dari kain ditempel kertas. Bandingkan dengan di Indonesia, yang setiap acara instansi selalu dibuat terkesan mewah. Kita seakan tak menyangka kalau itu adalah kantornya pusat perkereta-apian dengan pemakai jasa kereta api terbesar di dunia.

Beberapa anggota rombongan sempat berbisik-bisik seakan mengejek kesederhanaan itu. Namun mereka langsung terdiam saat ada seorang tokoh India yang dalam pidatonya mengatakan:

“Jumlah penduduk kami yang kaya memang hanya sekitar 10 persen dari total populasi, namun 10 persen itu sama dengan 100 juta orang karena penduduk kami jumlahnya 1 milyar. Artinya, jumlah penduduk kami yang kaya sama dengan setengah jumlah penduduk Indonesia…”

Dalam kunjungan di India, saya juga sempat ke pusat cyber atau IT disana. Juga ke pabrik motor Bajaj dan ke pusat persenjataan militer mereka di Pune. Semua sama, terkesan sederhana.

Beberapa waktu lalu, saya juga mendapat kesempatan diundang ke China. Kesan yang sama dengan India juga saya peroleh disana. Saat rombongan diterima Wakil Menteri Luar Negeri China, kami melihat gedung mereka yang sederhana namun indah dan antik. Halaman depannya dihias dengan bunga aneka macam warna, yang disusun dalam pot yang dibuat bertingkat.

Saat berkunjung ke Pabrik perangkat elektronik Huawei, suasananya sama. Hanya ada barisan gadis-gadis yang menyambut kami rombongan wartawan dari seluruh dunia yang sedang menjadi tamu pemerintah China. Kami seakan tak percaya dengan paparan Huawei bahwa mereka saat ini menjadi penguasa hampir 45 persen pasar perangkat keras internet dan pemancar telekomunikasi dunia.

Saat berkunjung ke Wuxi, sebuah kota yang indah di Provinsi Jiangsu, kami dibawa ke pusat listrik tenaga surya disana yang bernama Suntech. Pemimpinnya ramah dan sangat sederhana. Bahkan wakilnya, seorang bule yang kira-kira baru berusia 25 tahun, sekilas nampak seperti anak band saja. Padahal mereka adalah perusahaan penyedia listrik tenaga surya dengan kapasitas terbesar di dunia.

Disana juga kami dibawa ke Pabrik perangkat komunikasi merk Cynovo. Produk mereka dirancang akan melebihi kemampuan produk Jepang, AS dan Eropa. Ada dua pimpinan disana. Keduanya adalah warga AS keturunan etnis China yang sebelumnya petinggi di Microsoft Amerika Serikat. Penampilan mereka juga sangat sederhana. Tak ada kesan mewah atau wah. Bahkan saat kami baru masuk ke pabrik itu, sebelum mereka mengenalkan diri, kami tak sadar jika orang yang menyalami kami di pintu masuk tadi adalah Bos besar disitu.

Saat berkunjung ke kantornya koran China Daily, kami juga disambut di ruangan yang sangat sederhana.

Jadi menurut saya, jika kebiasaan, atau jika boleh dikatakan sebagai budaya hedonisme di kalangan pejabat kita tidak berubah, maka untuk selamanya kasus-kasus seperti permintaan gedung baru DPR, fasilitas dll ini akan terus terjadi dan berulang.

Yang diperlukan sekarang ini adalah bagaimana pemimpin menunjukkan kerja dengan menyelaraskan kata dan perbuatan. Jangan membuat slogan mengajak berhemat, namun pejabatnya foya-foya. So, jika gedung baru DPR itu rampung, kita harus bangga atau harus malu ???

Rimba Jalanan Pengguna Sepeda Motor di Jakarta


Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, saya baru menyadari jika tingkat kepatuhan berlalu-lintas di metropolitan ini ternyata jauh dibanding pengguna jalan di daerah. Padahal saat saya berada di luar Jakarta dulu, saya dan teman-teman saya selalu menyangka kalau warga Jakarta lebih punya kesadaran.

Suatu waktu, saat akan menyeberang jalan, teman saya yang warga Jakarta heran melihat saya terus menunggu pengendara memberikan jalan. Sebab saat di daerah dulu, jika kita akan menyeberang pasti pengguna jalan akan melambatkan laju kendaraannya.

“Mau nunggu ada yang memberi jalan? Gak bakalan ada…” kata teman saya itu.

Sejak saat itu, saya pun sadar, ternyata jalanan Jakarta benar-benar bak Rimba Raya yang penuh aneka macam ulah penghuninya. Dan sayangnya banyak yang tak mematuhi aturan berlalu-lintas. Jangankan bagi sesama pengguna kendaraan, bagi pejalan kaki pun sering pengguna kendaraan mengambil alih jalan yang seharusnya bagi kenyamanan pejalan kaki.

Dengan sikap warganya yang banyak tidak peduli aturan, wajar kalau jalanan di Jakarta sering macet. Saya sering melihat, banyak kemacetan tidak seharusnya terjadi jika sesama pengguna jalan saling menghormati.

Saya pernah mengalami kejadian macet sehingga harus berbuka puasa di tengah jalan. Macetnya hanya karena tak ada yang mengalah. Kejadiannya adalah di sebuah persimpangan, ada sebuah mobil yang mencoba berbelok namun terhalang kendaraan lain, akibatnya dia berhenti menunggu ada jalan. Saat mobil itu menunggu, beberapa sepedamotor dari arah berlawanan sudah menguasai jalan sebaliknya, akibatnya seluruh kendaraan dari arah yang berlawanan tertutup. Pengguna jalan dari dua arah bertemu di tengah, saling pandang-pandangan, menunggu ada ruang yang kosong. Terjebak selama satu jam disana. Waktu berbuka puasa pun tiba. Lucunya, banyak pengguna kendaraan yang turun, meninggalkan kendaraannya di jalan, untuk pergi membeli minuman ke warung di tepi jalan. Jalanan baru bisa terurai setelah beberapa pemuda disana turun tangan menuntun kendaraan agar ada ruang kosong.

Kendala utama menurut saya adalah sikap masa bodoh para pengguna jalan itu sendiri. Pernah di sebuah pasar, jalanan macet dari satu arah, arah sebaliknya yang saya lalui kebetulan lancar. Eh, tiba-tiba ada seorang Bapak yang melawan arus dengan kencang, membuat saya yang seharusnya punya jalan mesti berhenti memberi jalan kepadanya. Saat motornya terhalang motor lain dan motor saya, si Bapak hanya tersenyum. Ya senyum, sepertinya disini siapa pun yang tahu kalau sedang salah cukup dengan tersenyum saja agar yang lain tidak marah.

Kepada bapak itu saya katakan sambil melewatinya.

“Permisi ya Pak….” kata saya kepadanya…

“Iya….” katanya sambil tersenyum, saya lihat pengguna jalan di belakang saya ikut tertawa melihat si Bapak itu yang sempat-sempatnya menjawab permisi saya. Padahal si Bapak itu yang seharusnya ‘permisi’ pada kami yang sudah terganggu karenanya.

Satu hal lagi yang menurut saya sering menjadi masalah adalah ketidaktahuan pengguna jalan itu sendiri dengan aturan-aturan dasar berkendara di jalan raya.

Saya pernah mengalami juga, tidak bisa masuk berbelok ke jalan menuju rumah saya hanya karena seluruh badan jalan di mulut jalan, penuh dengan sepeda motor. Ada sekitar lima sepedamotor berbaris bak akan lomba balap di mulut jalan. Saya yang akan belok kiri terpaksa berhenti menunggu mereka jalan. Pengguna mobil di belakang saya sudah klakson terus. Seorang cewek yang berada paling kanan, yang menghalangi jalan saya kemudian menggeser motornya ke depan, agar saya bisa lewat. Saat itu saya katakan pada cewek itu, “Lain kali kalau mau belok itu ya dari sebelah kiri Mbak…”

Dia menjawab, “Iya… iya…” Entah paham maksudnya atau tidak.

Dalam pelajaran pertama di sekolah dasar dulu, saya masih ingat pesan guru saya, agar kami berjalan di sebelah kiri. Maka apa sebenarnya sulitnya untuk berjalan di sebelah kiri, termasuk saat akan berbelok. Meski pun kita akan berbelok ke kanan, kita harus selalu pada posisi sebelah kiri agar kendaraan dari arah berlawanan juga masih bisa masuk. Di Jakarta saya lihat, aturan itu banyak yang melalaikannya. Asal bisa masuk, ya masuk saja…

Itu sama kasusnya dengan saat akan keluar jalan atau gang. Di Jakarta kita harus ekstra hati-hati karena sering terjadi tiba-tiba ada kendaraan lain yang tiba-tiba masuk dari arah berlawanan di mulut jalan karena dia mencoba masuk jalan atau gang itu dari sebelah kanan. Banyak pengguna sepedamotor yang akan berbelok ke kanan atau kiri, sudah menepi ke pinggir jalan jauh sebelum mulut jalan atau gang. Dia menyisir tepi jalan melawan arah lalu masuk ke jalan atau gang. Akibatnya sering terjadi papasan atau menghambat kendaraan lain yang akan keluar.

Pelajaran itu sebenarnya aturan dasar sekali dalam berkendara. Namun saya yakin, mereka itu bukan karena sengaja melanggar namun karena memang belum tahu aturannya. Sebab saya pernah mendengar cerita teman saya yang baru pulang dari Sumatera yang kagum melihat bagaimana di jalanan itu semua ada aturan, termasuk aturan jika sedang berada di tanjakan. Saya heran melihat dia yang terkagum-kagum, sebab menurut kami di daerah, hal itu sudah aturan tak tertulis dan diketahui semua, siapa yang harus didahulukan jika sedang berada di tanjakan, yang mau naik atau yang mau turun?

Penggunaan lampu sein juga sering menjadi masalah. Sering kali pengguna jalan tidak sadar kalau lampunya belum dimatikan. Lampunya masih menyala yang sebelah kanan, lalu tiba-tiba dia berhenti. Pengguna jalan yang di belakangnya yang jadi korban, banting setir dan bisa kecelakaan. Sekarang memang kebanyakan sepedamotor tidak ada lagi sinyal suara lampu sein-nya. Dulu selalu ada suaranya sehingga kita sadar kalau lupa mematikan. Sekarang biasanya sinyalnya berupa kedipan lampu di dashboard. Namun jika penggunanya sadar lalu lintas, dia tentu akan mematikan setelah selesai berbelok.

Tak sabar, ya sikap tak sabaran sering ditemui disini. Banyak pengguna sepedamotor yang tidak mau antre saat ada macet, dia lebih suka melawan arus dan akibatnya dia menghalangi jalan. Saat menghalangi jalan itu, justru dia yang sibuk klakson agar motor atau mobil yang di sampingnya memberi ruang agar dia masuk. Jika mau, bisa saja pengguna jalan lain tak mau memberikan dia jalan karena sudah melanggar. Namun itu akan membuat macet dua arah.

Sering juga ada sepedamotor yang ngotot melewati mobil di depannya meski mobil itu sudah menyalakan lampu sein kanan. Di daerah dulu, kami tahu bahwa arti lampu sein kanan itu adalah dia akan berbelok ke kanan atau tanda peringatan agar kendaraan di belakangnya jangan memotong karena ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Bagi yang sering ikut angkutan antar kota atau antar daerah pasti hal-hal seperti ini sudah diketahui.

Seandainya semua pengguna jalan benar-benar mengerti aturan dasar saja, saya yakin, kondisi jalan di Jakarta akan sedikit terbantu. Saya suka geleng kepala jika melewati kawasan Pengumben, dimana dua badan jalan penuh dengan kendaraan. Sepedamotor mengambil alih jalan di sampingnya saat antre lampu merah, akibatnya kendaraan dari arah berlawanan sulit masuk karena jalan menyempit. Mungkin karena pelanggarnya ratusan, bahkan ribuan, polisi yang bertugas disana lebih fokus mengatur jalan, bukan menindak pelanggar.

Ada beberapa negara yang menerapkan aturan ketat soal SIM. Bahkan ada yang mencabut SIM jika pengguna jalannya melanggar lalu lintas. Sekarang ada aturan baru berupa pencatatan elektronik. Menurut saya, jika polisi tegas menegakkan aturan, pengguna jalan juga akan berpikir dua kali kalau ingin melanggar aturan. Kenapa misalnya tidak diterapkan, seseorang yang melanggar lalu lintas sekian kali, SIM-nya dicabut?

Saat pulang kampung kemarin, saya mendengar supir travel kami cerita pada temannya bagaimana disana untuk perpanjangan SIM saja mereka tidak bisa sembarangan. Semua aturan diterapkan termasuk tes mengendarai kendaraan. Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan pelaksanaan di daerah memang lebih bagus dibanding Jakarta sang Ibukota?